START UP DIGITAL BUSINESS SEBAGAI SOLUSI PENGGERAK WIRAUSAHA MUDA
ARTIKEL
START UP DIGITAL BUSINESS SEBAGAI SOLUSI PENGGERAK WIRAUSAHA MUDA
Diajukan Untuk Memenuhi Ulangan Akhir Semester Mata Kuliah Ekonomi dan Bisnis Digital
Dosen: Dr. Susanti Kurniawati, M.Si
Disusun Oleh:
Mira Ayu Susnita
1802039
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
START UP DIGITAL BUSINESS SEBAGAI SOLUSI PENGGERAK WIRAUSAHA MUDA
Abstrak
Geliat pengguna internet untuk perdagangan yang semakin bertambah mendorong munculnya bisnis baru yang sekarang banyak dikatakan sebagai start up bisnis. Semua bisnis tersebut bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa yang memenuhi kebutuhan sehari – hari, mayoritas dari mereka bergerak di bidang online. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dari beberapa literatur, data dan fakta mengenai fenomena bisnis start up.
Berdasarkan pengembangan pengetahuan bisnis start up ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam kegiatan pemasaran digital startups untuk mencapai target pasar dan mengantisipasi persaingan yaitu pendistribusian informasi dengan menggunakan berbagai media digital untuk menyebar luas atau mendistribusikan yang terkait dengan bisnis digital yang dijalankan. Pemanfaatan kesempatan dalam dunia digital yang masih sulit dilakukan oleh anak muda saat ini, karena mereka belum berpikir untuk menjadi pengusaha. Pada tahap proses membentuk wirausaha membutuhkan dukungan dari lingkungannya.
Setiap menit muncul start up digital baru dengan fitur yang hampir sama antara satu dengan yang lain, maka keterampilan, inovasi dan kreativtas yang cenderung dimiliki oleh kaum muda mampu diaplikasikan.
Kata kunci: start up, bisnis, kewirausahaan.
Pendahuluan
Era digital saat ini merupakan saat yang menguntungkan bagi banyak pihak terutama masyarakat Indonesia. Terkait dengan bertambahnya pengguna Internet di seluruh Dunia terutama di Indonesia yang mencapai 102 Juta pengguna dan berada di urutan ke-6 Dunia sebagai pengguna Internet yang pertumbuhannya tergolong cepat. Menurut data dari emarketer diperkirakan pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia pada tahun 2018 akan mencapai 120 juta lebih.
Berdasarkan survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pertumbuhan yang pesat tersebut dapat digolongkan menjadi beberapa kategori diantaranya pengguna Internet sekitar 51% dari total penduduk Indonesia yang sebesar 256 juta jiwa dengan sebaran terbanyak berada di Jawa dengan jumlah mencapai 86 juta atau sekitar 60% dari total penggunan Internet. Bagi pemilik bisnis online tentunya data tersebut merupakan sasaran pasar yang menggiurkan, mengingat mayoritas pengguna Internet selain mereka aktif dalam media sosial , mereka juga aktif dalam perdagangan online (e commerce). Perkembangan Internet yang pesat juga dipengaruhi oleh infrastruktur teknologi informasi yang menyediakan akses Internet yang menyeluruh dan cepat.
Geliat pengguna internet untuk perdagangan yang semakin bertambah mendorong munculnya bisnis – bisnis baru yang sekarang banyak dikatakan sebagai “start up business”. Ries, (2011) menjelaskan diantaranya start up merupakan sebuah usaha yang baru didirikan dan masih pada tahap pengembangan serta penelitian untuk mencari potensi pasar dan semua tergolong dalam bidang usaha teknologi dan informasi. Di Indonesia sudah banyak bermunculan bisnis start up diantaranya bukalapak, Gojek, Tokopedia, dll.
Semua bisnis tersebut bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa yang memenuhi kebutuhan sehari – hari konsumen, mayoritas dari mereka bergerak di bidang online. Hampir semua dari pemilik bisnis tersebut tergolong masih usia muda dengan pengalaman yang mungkin kurang namun dengan keahlian teknologi informasi yang semakin berkembang mereka dituntut untuk dapat berinovasi dan anak muda merupakan pelaku inovasi.
Ooi dan Ahmad, (2012) menjelaskan bahwa munculnya binis tersebut dilakukan secara individu. Aspek motivasi yang tepat sangat penting bagi pelaku bisnis start up atau calon pengusaha untuk masuk ke bisnis tersebut. Drucker dalam Paunescu (2013) menyatakan “setiap orang yang memulai bisnis baru adalah sedang berwirausha”. Seorang pengusaha muda khususnya yang begerak dalam bisnis start up memiliki inovasi untuk menghasilkan solusi kreatif yang berhubungan dengan pasar yang kebutuhannya belum terpenuhi dan menciptakan jenis nilai yang baru bagi pelanggan.
Tinjauan Pustaka
Niat Berwirausaha
Fishbein dan Ajzen dalam Hall & Devaney (2009) menjelaskan bahwa niat merupakan "probabilitas subjektif seseorang bahwa ia akan melakukan beberapa perilaku". Sihombing (2012) menjelaskan bahwa berwirausaha merupakan salah satu tujuan bagi banyak siswa khususnya anak muda setelah menyelesaikan studi. Hal tersebut dikarenakan bahwa berwirausaha memberikan beberapa keuntungan, seperti mampu mengatur keuntungan sendiri, kepuasan diri, mandiri, dan hasil yang sesuai keinginan.
Niat kemudian menjadi kata yang sering digunakan dalam semangat kewirausahaan pemahaman di kalangan anak muda (Ajzen dalam Hall & Devaney ,2009). Faktor motivasi yang menghasilkan perilaku dapat dinyatakan bahwa besarnya niat untuk melakukan suatu perilaku, yang besar kemungkinan bahwa individu akan terlibat dalam perilaku berwirausaha. Niat merupakan motivasi seseorang untuk bertindak atas sadar perencanaan dan keputusan (Conner & Armitage dalam Hall & Devaney (2009)). Niat berwirausaha merupakan motivasi untuk membuat perencanaan secara sadar yang bertujuan untuk mendirikan sebuah bisnis. Thompson (2009) mendefinisikan niat kewirausahaan sebagai "selfacknowledged” atau keyakinan atau niat yang dimiliki oleh seseorang untuk mendirikan usaha atau bisnis baru secara sadar dan berencana untuk melakukannya di masa depan.
Sapienza dan Grimm; Watson, et al dalam Balboni (2014) menjelaskan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan atau munculnya usaha baru yaitu faktor pendidikan tinggi. Pendidikan menjadi tolak ukur bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka keterampilan wirausaha. Faktor kedua pengalaman berwirausaha yang berarti seseorang dengan pengalaman berwirausaha sebelumnya telah terbiasa menghadapi ataupun mampu menghindari kesalahan. (Cooper, et al. dalam Balboni ,2014).
Faktor selanjutnya yaitu jaringan yang luas yang berarti pendiri usaha memiliki jaringan luas yang akan menguntungkan usahanya dalam aspek modal dan pelanggan. Orientasi berwirausaha juga merupakan faktor pendorong yang menjelaskan berbagai hal mengenai inovasi, berani mengambil risiko untuk mencoba hal baru dan tidak pasti dan mampu melihat peluang baru.
Faktor terakhir menurut Baum et al dalam Balboni (2014) yaitu motivasi dan tujuan yang menjelaskan mengenai visi dari pendiri usaha di masa depan yang lebih menantang. Dengan demikian, niat berkorelasi dengan perilaku, semakin kuat niat maka akan mempengaruhi perilaku tersebut (Ajzen dalam Hall & Devaney 2009); oleh karena itu, niat berwirausaha berfungi sebagai mediator terhadap tindakan.
Start Up Digital
Mayoritas bisnis yang muncul di era modern saat ini cenderung dimanfaatkan melalui media online yang sekarang disebut e commerce. Start-up, kata yang sering dipakai di era digital saat ini, Sheung (2014) menjelaskan bahwa metode startup bisnis diikuti oleh inovasi tren teknologi. Pateli dan Giaglis (2005) menyatakan bahwa percepatan pertumbuhan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) mampu meningkatkan tren yang mengubah model bisnis tradisional atau mendorong berdirinya bisnis baru (startup) yang cenderung memanfaatkan peluang teknologi.
Startup bisnis mampu menumbuhkan atau menciptakan peluang baru bagi para generasi muda khususnya yang bersedia untuk beradaptasi dan mengubah model pasar tradisional ke pasar virtual. Model bisnis lama yang mulai berubah ke model bisnis online (startup) dimana inventaris digantikan oleh informasi dan produk digital menggantikan barang fisik.
Strategi Start-Up Digital
Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa bisnis Start Up termasuk kedalam model bisnis yang menantang karena informasi seringkali bergerak sangat cepat, dan konsumen memiliki banyak cara untuk mendapatkan barang dan jasa dengan cepat tanpa uang fisik. (Teece, 2010). Oleh karena itu pemain dalam bisnis Digital cennderung harus banyak mencari tahu bagaimana cara untuk mendapatkan keuntungan yang berasal dari bergeraknya informasi mengenai trend barang dan jasa. Pengembangan bisnis digital hampir sama dengan bisnis fisik pada umumnya, salah satu caranya dengan pemasaran.
Beier (2016) enyatakan bahwa proses pemasaran dalam dunia digital juga harus dipahami oleh pemilik start up digital, digital marketing secara umum dapat didefinisikan sebagai penggunaan teknologi digital yang terintegrasi. Definisi lain juga menjelaskan komunikasi yang ditargetkan dan terukur yang ditujukan untuk memperoleh dan mempertahankan pelanggan dan di waktu yang sama dengan membangun hubungan yang lebih dalam dengan mereka (Wymbs 2011). Pemasaran online saat ini dapat dilakukan dengan teknologi baru seperti smartphone dan aplikasi pendukungnya (Tiago dan Verissimo 2014).
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, data yang ada bukanlah data kuantitatif yang berupa angka, data dari kualitatif berupa data yang didapat dari wawancara narasumber , mencari beberapa data dan isu dari beraneka variasi sumber isu internet, dan observasi yang telah dilakukan penulis, dan disebut deskriptif karena penelitian ini bersifat menjelaskan dari proses penelitian yang diteliti. Metodologi adalah strategi, rencana, proses, atau rancangan yang berada dibalik pilihan dan penggunaan metode tertentu dan menghubungkan pilihan serta penggunaan metode untuk mencapai hasil penelitian yang diinginkan (Sarosa, 2012:5).
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau dalam bentuk hitungan lainnya, contoh dalam bentuk penelitian mengenai kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang disamping peranan organisasi, sosial, maupun timbal balik (Straus & Corbin, 2003:4). Penelitian ini dapat dikatakan sebagai penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, dengan cara deskriptif dalam bentuk kata dan bahasa pada suatu konteks khusus dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moloeng 2005:6).
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik studi pustaka yang termasuk kedalam dokumen sekunder. Menurut Nazir, studi pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap berbagai buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekonomi digital dapat dijadikan sebuah alternative bagi para pelaku ekonomi dalam menjalankan usahanya dan menjadi penggerak bagi para pemuda untuk berwirausaha. Jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2016 mencapai 132 juta dari total 250 juta penduduk Indonesia. Pemanfaatan yang sekarang masih belum maksimal hanya digunakan pada social media dan belum memanfaatkan sebagai potensi atau peluang bisnis online. Dalam tingkat atau urutan dunia pada pengguna internet, Indonesia berada di posisi ke -6 se dunia dan diprediksi akan meningkat melihat perkembangan dan pertambahan pengguna setiap tahunya.
Dalam memulai sebuah start –up bisnis harus dimulai dari niat calon pelaku usahanya, munculnya niat yang akan berimbas pada perilaku dari calon pelaku usaha internet jelas berbeda dengan niat berwirausaha oleh pelaku usaha fisik sebenarnya. Perbedaan yang jelas yaitu ada pada kondisi usaha yang berupa modal, tempat, dan produk. Aspek modal ada perbedaan pada jenis usaha fisik dengan usaha online yang banyak perhitungan mengenai kebutuhan yang cukup besar, karena memperhitungkan berbagai hal untuk perizinan usaha dan bahan baku/produk utama yang diperdagangkan. Jika usaha online tidak terikat aturan yang ketat mengenai modal, karena mayoritas pelaku / calon pelaku usaha digital tidak mensyaratkan banyaknya modal seperti usaha konvensional.
Modal dalam usaha online lebih fleksibel, tergantung dari kemampuan pemilik usaha. Modal yang minimal-pun mampu masuk dalam perdagangan digital. Banyaknya anak muda pengguna internet dengan sedikit pengalaman usaha dan ketersediaan modal, maka startup menjadi pilihan yang sesuai dengan kondisinya. Keahlian dalam teknologi informasi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi.
Aspek tempat merupakan aspek yang krusial, karena selain sifatnya hampir sama seperti modal, namun lebih sulit didapatkan jika usaha tersebut konvensional. Tanpa adanya tempat, jenis usaha konvensional akan sulit untuk bertahan dan berkembang, karena terkait dengan proses penjualan dan produksinya yang membutuhkan tempat. Jenis usaha online tidak memerlukan banyak tempat, yang diperlukan hanyalah display foto dari produk yang ditawarkan oleh penjual. Start up digital yang muncul saat ini menawarkan berbagai banyak pilihan produk dan jasa sekalipun tanpa memerlukan tempat untuk display-nya.
Keunggulan inilah yang seharusnya mampu dilirik oleh kalangan pemuda yang banyak memiliki ide dan kreativitas di bidangnya. Aspek lain yaitu produk, dalam perkembangan dunia digital saat ini berbagai macam jenis start up muncul dengan persaingan yang tidak mudah. Ide dan kreativitas terhadap produk tersebut harus dapat menarik konsumen yang mengharapkan kemudahan dan layanan yang serba cepat. Sebagai contoh aplikasi Go-Jek yang muncul di Indonesia beberapa tahun lalu mampu merebut hati konsumen Indonesia dan mengangkat moda transportasi ojek konvensional yang lebih moderen. Kemudahan dalam aplikasi Go-Jek diperlihatkan dengan kemampuan cepatnya layanan pada konsumen yang membutuhkan ojek dengan waktu yang singkat dan lokasi konsumen berada.
Kreativitas layanan tersebut tidak hanya ada pada jasa layanan transportasi saja, namun terdapat layanan pesan antar seperti Go-food yang khusus melayani layanan antar makanan pesanan konsumen tanpa harus keluar untuk membelinya. Semua kemudahan tersebut telah merubah cara pandang dan cara berpikir kita mengenai bisnis online. Bisnis online cenderung mendorong pelaku usaha untuk lebih kreatif dan memaksa segala usia untuk paham mengenai teknologi. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang menjadi tolak ukur oleh pelaku usaha, banyaknya jumlah pengguna teknologi/gadget berada pada usia 20 tahun ke atas, yaitu pada usia produktif. Kesempatan bagi usia produktif untuk mampu memanfaatkan banyak peluang dalam usaha.
Pada hasil survey tahun 2016 oleh APJII diperoleh data bahwa 62% atau 80 juta lebih pengguna internet digunakan untuk online shop, data tersebut memberikan informasi bahwa kesempatan bagi pelaku usaha digital untuk segera memulai usaha. Banyaknya peluang dalam bisnis digital belum maksimal disebabkan berbagai alasan, kurangnya pemahaman pelaku usaha mengenai teknologi informasi, kreativitas dan inovasi usaha, serta pengelolaan manajemen dalam bisnis digital dan strategi.
Semua aspek tersebut masih banyak dimiliki oleh para remaja yang sebetulnya sudah memahami teknologi informasi namun belum mampu melakukan tindakan nyata karena niat dalam berwirausaha belum muncul. Faktor pengetahuan dalam melihat peluang bisnis menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pada pelaku usaha muda yang masih minim pengetahuan dan pengalaman wirausaha.
Model Knowledge Management (Sheung, 2014)
Dapat diketahui bahwa dalam memulai strategi bisnis online model manajemen pengetahuan mampu mendorong strategi dalam bisnis digital. Sebuah bisnis start-up harus mampu memanfaatkan pengetahuan yang sudah ada, dalam hal ini seperti keunggulan dan menciptakan pengetahuan baru yang mampu mengangkat posisi bisnis start-up di pasar yang sudah ditargetkan.
Walaupun teknologi sudah berkembang sangat pesat dan bisnis telah memiliki investasi yang cukup untuk menopang jalannya usaha dalam hal ini teknologi yang sangat memadai, namun bagi beberapa pemilik usaha digital masih terus mencoba berbagai metode yang paling efektif untuk menyalurkan pengetahuan, memanfaatkan dan untuk memastikan bahwa pengguna pengetahuan tersebut saling berbagi pengetahuan. Inovasi dan kreativitas beberapa hal yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan menciptakan sesuatu hal dalam hal ide – ide kreatif dalam bisnis start-up. Wirausaha digital muda cenderung mampu mengembangkan ide dan menciptakan peluang sendiri, keunggulan wirausaha muda ada pada pengetahuan dalam hal teknologi yang selalu update dibandingkan orang dewasa yang justru memiliki banyak pengalaman.
Berdasarkan beberapa hal dalam pengembangan pengetahuan bisnis start up ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam kegiatan pemasaran digital startups untuk mencapai target pasar dan mengantisipasi persaingan (Beier ,2016) yaitu pendistribusian informasi dengan menggunakan berbagai media digital untuk menyebarluas atau mendistribusikan berbagai hal yang terkait dengan bisnis digital yang dijalankan. Pemilik usaha digital harus mampu mengembangkan metode yang sesuai dengan bekal pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki menyediakan konten dan format tertentu untuk mencapai target pasar. Banyak pelanggan potensial yang masih belum terjamah dengan konten digital yang disebarluaskan. Para wirausahawan muda tentunya paham mengenai metode agar para konsumen potensial mampu terjaring dengan ketatnya persaingan bisnis digital.
Van Horne et al., (2016) mengungkapkan kewirausahaan digambarkan sebagai suatu proses yang memanfaatkan kesempatan dan memperoleh pengakuan dari bisnis yang dibangunnya untuk memperoleh imbalan dari hasil kerja keras, melalui penjualan. Pemanfaatan kesempatan dalam dunia digital yang masih sulit dilakukan oleh anak muda saat ini, karena mereka belum berpikir untuk menjadi pengusaha. Pada tahap proses membentuk wirausaha membutuhkan dukungan dari lingkungannya dan masing-masing memiliki metode belajar sendiri.
Ada empat tahap dasar dari proses kewirausahaan tradisional seperti:
1. Kesempatan Mengenali
Mengenali dalam hal ini berarti mampu mengenali kesempatan dan mengetahui peluang sekaligus mengenali dirinya sendiri apakah berniat untuk menjadi wirausaha.
2. Sumber daya
Pengelolaan sumber daya dalam diri wirausaha perlu untuk dikembangkan termasuk pengetahuan dalam pengelolaan teknologi informasi dan modal yang digunakan untuk memulai sebuah start up digital.
3. Peluncuran usaha
Memulai usaha start up digital berbeda dengan memulai usaha konvensional. Start up digital cederung lebih fleksibel karena dapat dilakukan kapan-pun dan dimanapun. Jadi tidak ada alasan sulit dalam peluncuran usaha awal.
4. Penuaian (keberhasilan)
Penuaian keberhasilan akan proses jalannya usaha bergantung dari proses awal hingga penuaian, dalam start up digital yang masih tergolong usaha awal cenderung belum diketahui tingkat keberhasilannya.
Esmaeeli, 2011 menambahkan bahwa kewirausahaan digital awal mulanya dimulai dalam mengembangkan atau digitalisasi usaha. Lingkup digitalisasi usaha berasal dari layanan digital yang tergolong cepat dan memuaskan sehingga dipilih untuk membuat hampir seluruh layanan menjadi digital, potensi barang atau jasa lebih luas dengan jalur distribusi digital , potensi interaksi digital dengan pemangku kepentingan, dan potensi digital dari kegiatan internal terkait dengan operasi perusahaan. Bisnis digital menjelaskan mengenai penciptaan nilai baru, yang melibatkan model bisnis baru berdasarkan barang atau layanan digital, distribusi digital, tempat kerja digital, dan pasar digital.
Dalam pendistribusian barang dan jasa media sosial menjadi alat bantu dalam memasarkan produk dan meningkatkan brand, pemasaran melalui media sosial inipun sudah dilakukan sejak lima tahun terakhir. Berdasarkan data dari Hootsuite, perusahaan analisis media sosial dari Kanada, penggunaan media sosial di Indonesia pada tahun 2020 sudah mencapai 160 juta orang atau 59% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 272 juta jiwa.
Platform media sosial yang paling banyak digunakan adalah Youtube sebanyak 88%, kemudian Whatsapp 84%, Facebook 82%, Instagram 79%, dan Twitter 56%.
Simpulan dan Saran
Simpulan
Perkembangan teknologi yang tiada henti memberikan dampak positif sekaligus negatif, positif ketika seseorang mampu melihat peluang untuk digunakan dalam bisnis. Namun dampak negatif akan terjadi jika seseorang tidak mampu melihat peluang yang tersedia yang hanya dimanfaatkan sebagai hiburan saja.
Anak muda yang memiliki semangat dan pengetahuan didorong untuk mampu memberikan kontribusi yang nyata dalam persaingan start up bisnis. Setiap menit muncul start up digital baru dengan fitur yang hampir sama antara satu dengan yang lain, maka keterampilan, inovasi dan kreativtas yang cenderung dimiliki oleh kaum muda mampu diaplikasikan.
Saran
Dalam berjalannya waktu dan teknologi informasi, masih banyak permasalahan mengenai bisnis digital, kreatifitas, pengembangan, dan sustainbility dalam pengelolaan bisnis menjadi topik yang layak diteliti.
Daftar Pustaka
“Internet dan Ekonomi Digital”.Business-law.binus.ac.id.26 Agustus 2019.13 Mei 2020.http://business-law.binus.ac.id/2019/08/26/internet-dan-ekonomi-digital/
“9 Definisi Metode Penelitian Kualitatif Menurut Para Ahli”.Autoexpose.org.17 Juni 2019.13 Mei 2020.http://www.autoexpose.org/2019/06/definisi-metode-penelitian-kualitatif.html?m=1
Asghari, R. and Gedeon, S. (2010) ‘Significance and Impact of Internet on the Entrepreneurial Process: Eentrepreneurship and Completely Digital Entrepreneurship’ in Proceedings of the 4th European Conference on Innovation and Entrepreneurship
Atkinson, G., Driesener, C., and Corkindale, D. 2014. “Search Engine Advertisement Design Effects on Click-Through Rates,” Journal of Interactive Advertising 14(1), pp. 24-30
Balboni, et al.2014. The Growth Drivers of Start-up Firms and Business Modelling: A First Step toward a Desirable Convergence. Journal of Management 9 (2): 131–154
Beier, Michael (2016): Startups’ Experimental Development of Digital Marketing Activities. A Case of Online-Videos. Social Science Research Network (SSRN) Electronic Journal, Paper: 2868449.
Academy.getcraft.com. (3 April 2020). “Dampak Revolusi Industri 4.0 pada Pemasaran Digital”. Diakses pada 3 April 2020, dari https://academy.getcraft.com/id/blog/dampak-revolusi-industri-4.0-pada-pemasaran-digital
good
BalasHapus